BERBAGI

Dalam Diskusi Publik bertemakan “Mempertanyakan Kredibilitas Saksi Pelapor di Persidangan” pada hari ini (12/1) di Balai Rakyat Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Edi Danggur, salah seorang Tim Penasehat Hukum Ir Basuki Tjahaja Purnama MM alias Ahok mengatakan dari semua saksi pelapor yang sudah diperiksa di persidangan Ahok sejak tanggal 3 Januari 2017 sampai sekarang, tidak ada saksi pelapor yang benar-benar memenuhi syarat sebagai saksi.

“Saksi yang dihadirkan dalam persidangan harus memenuhi syarat. Pertama, dia hanya bisa menerangkan hal-hal apa saja dia dengar secara langsung di tempat kejadian perkara, bukan berdasarkan hal-hal yang ia dengar dari orang lain. Kedua, dia hanya boleh menerangkan apa yang ia alami sendiri; Ketiga, ia lihat sendiri apa yang terjadi di tempat kejadian perkara; Keempat, tentu saja ia harus bisa menjelaskan dengan terang-benderang sumber dan alasan pengetahuannya sehubungan dengan peristiwa dan keadaan yang didengarnya, dialami dan dia lihat”, demikian penegasan Edi Danggur di hadapan warga masyarakat dan relawan pendukung cagub Basuki Djarot.

Terbukti bahwa semua saksi pelapor yang diajukan ke persidangan oleh Penuntut Umum, hanya menerangkan bahwa mereka tahu tentang pidato Ahok di Pulau Seribu itu dari teman yang disampaikan melalui telpon, WA dan SMS. Sedangkan menurut ketentuan hukum acara pidana, seorang saksi yang bersaksi di pengadilan tidak boleh menerangkan sesuatu yang berupa cerita orang lain, tidak boleh menerangkan apa yang ia persepsikan atau perkirakan, tidak boleh berupa pendapat, apalagi hanya berdasarkan dugaan semata.

“Lebih fatal lagi, ketika ditanya di persidangan, para saksi menerangkan hal-hal yang kontradiktif. Di satu sisi, para saksi mengaku bahwa isi pembicaraan per telpon dan isi WA dan SMS tersebut begitu penting, dan bahkan menjadi dasar untuk melaporkan Ahok ke polisi. Tetapi ketika ditanya apakah nomor telpon, isi WA serta SMS dari teman-teman para saksi itu masih tersimpan, dengan enteng mereka menjawab sudah dihapus”, jelas Edi diiringi gelak tawa para peserta diskusi publik tersebut.

Fakta-fakta persidangan seperti ini kiranya bisa menjadi dasar bagi Majelis Hakim untuk mengabaikan keterangan para saksi tersebut bahkan Majelis Hakim patut mendiskualifikasi para saksi yang yang tidak kredibel dalam persidangan Ahok. “Perkara Ahok tidak boleh diputus atas dasar keterangan saksi-saksi yang tidak kredibel”, demikian penegasan Edi menutupi paparannya dalam diskusi tersebut.