BERBAGI

Habib Rizieq Syihab disebut tak akan memenuhi panggilan Polda Jabar untuk diperiksa sebagai tersangka. Gantinya, Rizieq akan menghadiri sidang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk menjadi saksi ahli (www.detiknews.com, Senin 6/2).

Berikut tanggapan Edi Danggur, salah satu anggota Tim Advokasi Bhinneka Tunggal Ika BTP:

Pertama, Habib Rizieq belum dapat diperiksa sebagai ahli agama Islam sebab saksi-saksi (fakta) belum selesai diperiksa. Untuk sidang Selasa (7/2) Penuntut Umum sudah memberi konfirmasi bahwa yang akan diperiksa hanya saksi-saksi (fakta) yaitu dua orang nelayan dari Pulau Seribu yaitu Jaenudin alias Panel dan Sahbudin alias Deni. Hal itu sesuai dengan ketentuan Pasal 160 ayat (1) huruf b KUHAP bahwa yang didengar keterangannya terlebih dulu adalah saksi. Setelah semua saksi selesai diperiksa, barulah diperiksa ahli-ahli.

Kedua, saksi ahli belum dipanggil untuk datang ke pengadilan guna memberikan keterangan. Seorang saksi atau ahli  tidak bisa sesukanya datang ke pengadilan. Saksi atau ahli datang ke pengadilan berdasarkan surat panggilan dari Penuntut Umum. Itu pun saksi-saksi dan ahli-ahli itu tidak boleh datang secara beramai-ramai atau sekaligus ke pengadilan. Sebab, sesuai KUHAP, saksi dan ahli akan dipanggil satu per satu ke persidangan (Vide Pasal 160 ayat (1) huruf a).

Ketiga, dalam rangka saling koordinasi sebagaimana disyaratkan dalam KUHAP, Penuntut Umum telah menyampaikan kepada Penasehat Hukum Terdakwa bahwa nama Habib Rizieq belum tercantum dalam daftar ahli yang akan diambil keterangannya dalam sidang esok Selasa (7/2). Dengan demikian tidak benar pernyataan jurubicara FPI Slamet Ma’arif bahwa Habib Rizieq dipanggil sebagai ahli pada sidang Ahok Selasa (7/2).

Mari kita menghormati semua ketentuan hukum acara pidana demi kelancaran jalannya persidangan persidangan dugaan penodaan agama di Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang sidangnya berlangsung di Gedung Kementan, Ragunan, Jakarta Selatan.

Edi Danggur
Anggota Tim Advokasi Bhinneka Tunggal Ika BTP